BUDAYA JAWA

BUDAYA JAWA

BUDAYA JAWA

Eko JokoTrihadmono

Budaya Jawa yang hidup sekarang ini merupakan peradaban orang Jawa yang berakar di Keraton. Keraton merupakan sumber kebudayaan dan peradaban masyarakat  Jawa pada umumnya. Peradaban ini berakar dari hasil-hasilkesusastraan yang telah ada sejak empat abad yang lalu, dan memiliki kesenian yang  maju berupa tari-tarian dan seni suara keraton.

Budaya Jawa telah ada sejak ratusan tahun lalu yang membentuk jatidiri, identitas, dan ciri khas sebagai manusia Jawa atau orang Jawa. Akan tetapi, pada realitanya berbagai identitas tersebut telah banyak berubah seiring dengan adanya pengaruh budaya luar, sehingga budaya Jawa mengalami erosi. Sebagai akibatnya muncul fenomena wong Jowo ilang Jawaneorang Jawa telah kehilangan kejawaannya’. Artinya, banyak orang Jawa telah kehilangan identitas primernya, seperti unggah-ungguh (saling menghormati), tradisi budaya, penggunaan bahasa dan seabagainya.

Budaya Jawa mengalami perekembangan yakni dengan berakulturasi dengan budaya-budaya lain. Wujud akulturasi tersebut; (1) ada yang mempertahankan kejawaannya, (2) ada yang terbelah di antara berbagai budaya, dan (3) ada yang progresif cenderung meninggalkan budaya Jawa dan mengikuti budaya lain meskipun tidak hilang sama sekali. Dalam masyarakat Jawa sekarang  ada orang Jawa golongan tua dan golongan  muda. Orang Jawa golongan tua masih taat pada tata cara Jawa atau njawani: seperti etika (bertamu, berpakaian, berbahasa, dan sebagainya), estetika (tari, bersastra, berkerajinan, dan sebagainya), berfilsafat, berpandangan hidup, dan sebagainya.

Dalam era pembangunan sekarang ini masyarakat Jawa terbagi menjadi dua kelompok. Kedua kelompok tersebut adalah kelompok sosial religius dan  kelompok sosial ekonomi. Kelompok sosial religius terdiri dari kaum santri (orang Jawa penganut ajaran Islam yang aktif dan taat) dan kaum abangan (orang Jawa penganut ajaran Islam yang pasif dan non Islam). Kelompok sosial ekonomi terdiri dari kaum priyayi (pegawai rendah dan terpelajar, pejabat) dan wong cilik (petani, buruh dan orang-orang yang penghasilannya rendah).