CELENGAN BAMBU

CELENGAN BAMBU

CELENGAN BAMBU

By: Indirwan

 

Lalu lintas belum cukup ramai saat seorang pemuda usia belia melaju dengan gesit diantara celah-celah kendaraan yang nampaknya mulai menampakkan tanda-tanda macet. Ayunan sepasang kakinya begitu kokoh seirama derit pedal tua yang terus saja bersahut-sahutan dengan suara bising mesin kendaraan di sepanjang jalan. Sementara itu, tepat dibalik punggungnya–diatas roda tua nan aus yang sedang berputar. Tampaklah sosok lain yang jauh lebih belia lagi. Sosok itu bercokol dengan mantap diatas sebuah dudukan sederhana yang dirangkai dari beberapa batang besi seukuran jari kelingking anak remaja, ia duduk bersama kedongkolan yang menjadikan raut wajahnya tampak tidak karuan. Rangka besi yang ia duduki terasa tidak nyaman untuknya pagi itu. 

 

Masih terlalu pagi ketika sepeda tua yang Ali dan Mukhtar kendarai memasuki area kampus. Sekitar 25 menit lamanya Mukhtar mengayu sepeda—dimulai sejak ia mendudukkan Ali dalam keadan setengah tertidur dibalik punggungnya.

 

Peristiwa semacam itu terjadi hampir setiap harinya diantara kakak beradik ini—kecuali pada hari libur atau hari-hari tertentu. Keletihan tampak dengan jelas mendera tubuh Mukhtar, beberapa biji keringat tumbuh pada bagian-bagian tertentu diwajahnya, walau udara pagi saat itu belum juga kehilangan kesejukannya.

 

Agaknya, sesuatu dalam diri Mukhtara—seakan-akan menjaga semacam kesegajaan tertentu; Mengumpatkan segala tumpukan letih yang menderah. Tapi Ali, meski usianya masih sangat belia—ia mengetahui segala yang diumpatkan Mukhtar, termasuk sisa-sisa letih kala sosok dihadapannya itu bergulat dengan berbagai jenis adonan kue: Rutinitas keseharian yang biasanya dimulai sejak pukul dua pagi, setelah itu dilanjutkan dengan profesi meloper ratusan koran dipagi yang masih buta. Kondisi itu berjalan sudah sejak lama. Dan tampaknya, Mukhtar masih enggan melibatkan Ali dalam urusan-urusan itu.

 

“Pukul: 11.00 pesanan sudah harus diantar kemari!”. Ali tak menjawab seruan Mukhtar, kedongkolan masih terus bercokol di dadanya. Perasaan dongkol itu terus berlanjut kala sepasang kaki mungilnya mengayuh pedal tua untuk pertama kalinya di hari itu. Sepeda yang ia kendarai pun melaju perlahan meninggalkan Mukhtar beserta gedung-gedung kampus yang tampak masih sepi dari aktivitas manusia. Barangkali, asal-muasal dari segala kedongkolan itu lantaran tidak biasanya Mukhtar berangkat ke kampus dipagi yang masih buta. Imbasnya, Ali ikut-ikutan menanggung hawa dingin saat sepeda tua yang dikemudikan Mukhtar melaju menembus gumpalan-gumpalan embun pagi yang dinginnya seakan-akan hendak menusuk hingga ketulang.

 

Di sepanjang jalan, wajah ceria bocah-bocah berseragam seakan membanjiri rute yang ia lewati. Ali mengenal kebanyakan dari mereka. “Ali!” Sapa beberapa bocah berseragam dengan senyum seceria mentari pagi. Ali melambaikan tangan. Hampir disepanjang jalan itu, ali mesti melambai-lambai.

 

Menyaksikan begitu banyak yang memulai hari dengan penuh semangat, Ali merasai: seakan-akan seseorang sedang menyulut api semangat kedalam dirinya. Perasaan dongkol yang dideritanya beberapa saat yang lalu seakan raib dengan sendirinya. Lenyap seperti embun yang tersapu mentari pagi. Sejauh ia memandang, seragam cemerlang dan wajah-wajah ceria terdapat dimana-mana. Sosok-sosok cemerlang itu, seakan hendak menyinari seantero negeri dari segala penjuru.

 

“Ali....!” Seruh seorang perampuan paruhbaya ketika sepeda yang dikemudikan Ali semakin jauh meninggalkan kerumunan bocah-boah berwajah cemerlang. Saat yang sama pula, Ali mengayuh sepeda dengan semangat tinggi hingga seakan-akan hendak berlomba bersama sebuah truk yang kebetulan melaju kearah yang sama. Tentu, Ali tak mendengar apapun saat itu kecuali suara bising mesin truk yang memekak ditelinga.

 

Setibanya dirumah, Ali mendapati bahwa aktivitasnya sudah seperti tertatah dengan sendirinya. Dimulai dengan mengantar jajanan—Setidaknya, lima sekolah yang harus ia kunjungi setiap harinya. Satu SMU, dua SMP, dan sisananya SD. Untuk hari ini, ia punya jaduwal tambahan. Pukul 11.00 nanti—mengantar jajanan ke kampus Mukhtar

 

Bila jajanan sudah dibereskan, giliran tumpukan cucian yang mesti dibereskan, barang-barang itu menumpuk hampir memenuhi setiap sudut rumah disertai tumpukan catatan yang dicantolkan didinding berisi alamat para pelanggan yang hampir sejengkal tebalnya. Sebentar lagi Ali akan disibukkan dengan alamat-alamat itu. Dan, memang demikianlah adanya. Waktu pun terus berlalu, belum cukup separuh dari tumpukan cucian itu berhasil dibereskan, Ali memutuskan untuk segera berangkat ke kampus. Tapi sebelum itu. Ibunya muncul sambil memberi beberapa wejangan padanya. Dengan wajah letih, sang-Ibu memberi perintah-perintah tertentu dan Ali lekas bergerak sesuai arahan telunjuk itu.

*

“Ali” Seseorang memanggil. Saat berbalik, Ali mendapati sesosok paras cantik. “Sini, lewat sini!” Gadis itu berucap sambil melambaikan tangannya. Ali bergegas menyongsong mahasiswi itu sambil menggotong jajanan yang ditata rapi dalam beberapa tatakan. Tumpukan tatakan itu hampir-hampir menutupi wajahnya saat kedua tangannya menggotong barang-barang itu. Tampaknya, si mahasiswi berparas cantik cukup memahami kondisi Ali, diraihnya beberapa tatakan yang digotong Ali sembari menuntun jalan—berhenti di sebuah hall yang cukup besar. Ramai sekali suasana disanan. Beberapa mahasiswa langsung berkerumun dan membereskan semua tatakan yang dibawa Ali dan si mahasiswi berparas cantik.

 

Ali diajak melihat-lihat suasana perhelatan kampus. Dan, dari sanalah ia berkenalan dengan Herlin, gadis berparas cantik yang menjemput kedatangannya barusan, serta kini mengajak Ali menegok suasana perhelatan kampus – Semacam hajatan akbar para kaum intelek.

 

Sudah sejak lama Ali tahu jikalau Mukhtar itu tipikal pemuda yang meluap-luap semangat hidupnya. Namun, baru sekarang saja ia tahu jikalau dibalik penampilan yang sederhana, ramah, sejuk, dan bersahaja itu—tersembunyi raungan singa yang mengagumkan: Bangga rasanya melihat Mukhtar duduk dan bicara bersama beberapa orang terhormat dihadapat kerumunan mahasiswa dan dosen. Ali mengenal salah satu dari beberapa orang terhormat itu. Wajah orang terhormat itu sering muncul dilayar TV. Dan, tampaknya Mukhtar diserahi sesuatu oleh orang penting itu, kemudian berjabat tangan, dan diakhiri sebuah pelukan kehormatan yang disambut dengan tepukan tangan meriah. Mungkin semacam pertanda baik—Mukhtar dan orang penting itu menjadi objek kerumunan, cahaya-cahaya kamera berpendar disana-sini.

 

Semua itu terekam dengan jelas dikepala Ali. Meski, pada kenyataannya, terlalu banyak persoalan yang tak dapat ia mengerti disana. Bahkan, ketika dengan terpaksa ia harus memapa sepeda tua miliknya dibawah terik matahari, gara-gara roda depan yang telah aus ban-nya tertusuk kerikil atau semacamnya. Kenyataan itu terus-menerus mengusik akal sehatnya. Sambil mengamati secara seksama tukang tambal ban yang mereparasi sepedanya, Ali mengulang-ulang ingatan yang baru saja ia lewati dikampus. Rayuan dari beberapa mahasiswi yang dialamatkan padanya, yang sudah barangtentu sasaran sebetulnya dari gombalan-gombalan itu adalah Mukhtar. Dan Mukhtar, si-loper koran dan pembuat adonan kue itu, bersinar begitu cemerlang di antara teman-teman sekampusnya. Ali tak habis fikir dibutnya.

 

“Tidak usah bayar. Aku kenal kakakmu” Tukang tambal ban menolak uang yang disodorkan Ali—ia justru memilih untuk menjajalkan sebatang rokok kemulutnya.

”Apa penghasilanmu tidak akan berkurang hari ini?”

“Seperti yang kubilang tadi. Aku kenal kakakmu”

“Tahu dariman kalau aku memiliki pertalian darah dengan Mukhtar”

“Waktu kamu masih sebesar ini” Tukang tambal ban itu memperagakan sesuatu lewat sepasang tangannya. “Tapi... Ah, sudalah!”. Buru-buru pula ia menyudahi

“Ada apa saat aku sebesar...?” Ali menirukan gaya si-tukang tambal ban sambil menampakkan wajah keheranan

“Kau sering buang hajat dipangkuanku!. Ka...ka..ka”. Tukang tambal ban itu ngkak. Ali mengerutkan kening.

“Lantas, sejauh apa kau mengenal Mukhtar?”

“Tidak banyak. Kecuali bahwa; saat kami duduk dikelas yang sama dan sekolah yang sama pula. Tak pernah sekali pun aku menang soal adu kecepatan mengayuh pedal sepeda”

“Mukhtar sama sekali tidak terlihat setangguh itu”

“Tentu!, jika kau mengenal Mukhtar dari penampakannnya”

“Apa Jengki yang tergantung itu yang kau kendarai waktu itu?”

“Ya, begitulah kira-kira”

“Masih sering adu kecepatan?”

“Seperti yang kau lihat. Sekarang aku disini, dan mimpi itu aku gantung pula disini” Sejenak, tukang tambal ban itu terdiam. “Sebaiknya kau bergegas, nanti rejekimu habis dipatuki ayam”. 

 

Ali bergegas mengikuti saran itu, namun belum sempat ia mengayuh pedal, tukang tambal ban itu melakukan sesuatu pada stang sepedanya. Seketika itu juga Ali hilang keseimbangan dan oleng. Dengan gesit pula, tukang tambal ban itu menangkap Ali beserta sepedanya sehingga tak jadi jatuh.

 

“Jadi anak laki itu jangan lembek!”. Seruh tukang tambal ban sembari membetulkan letak tangan Ali pada stang sepeda. “Nah, coba kau peragakan kebolehanmu sebagai joki”. Ali menurut saja, dan ketika baru sekali ayunan pedal. “Stop..., stop!, Tangan harus begini posisinya..., kaki begini..., bahu...!, dan yang terpenting dari semua itu, dagu harus tegab kedepan. Begini, begini, dan begini”. Begitulah tukang tambal ban itu menggurui. Ali dapat meloloskan diri dari kegiatan dikte-mendikte itu setelah belasan kali ia mencoba dan tukang tambal ban itu kelelahan dengan sendirinya

 

 “Bilang sama Mukhtar!. Ada salam dari Brengose” Itu obrolan terakhir mereka dan Ali cepat-cepat minggat dari tempat itu. Setibanya di rumah, tumpukan cucian menyambut. Ali berkerja cepat seperti biasanya. Mengantar cucian dan menjemput beberapa pakaian kotor kealamat-alamat tertentu yang kadang jaraknya lima hingga enam blok jauhnya.

 

Saat matahari sudah hendak concong di lagit sebelah barat. Sisi-sisi rumah yang selalu disesaki oleh tumpukan pakaian, sedikit lebih longgar dari biasanya. Ali pun memutuskan untuk istirahat, beranjak tidur siang, tapi tak dapat memejamkan mata. Agaknya aktivitas kampus yang begitu menggairahkan merasuk dengan sempurna kedalam dirinya saat ini. Ia pun meloncat dari dipan dan mengambil sebuah buku dari meja belajar Mukhtar.

*

 

Dari suatu tempat yang tersembunyi, dilihatnya Mukhtar keluar dari pintu depan sebuah mobil yang baru saja terparkir. Pemuda enerjik itu berjalan kearah bagasi dibagian belakang mobil yang pandai membuka dengan sendirinya. Mukhtar mengambil beberapa kotak polimer plastik dari sana. Saat yang saman, sesosok gadis belia muncul dari sisi mobil yang lain. Berjalan sedikit tergesah sambil menawarkan bantuan. Mukhtar menolak tawaran itu dan dengan cepat menghilang kedalam rumah. Ali menyaksikan semua itu. Dan, gumpalan otak dikepalanya mulai bekerja dengan cepat. Tampaknya ia menemukan bahan menarik untuk membalas olokan Mukhtar.

 

Sudah tiga hari lamanya, Ali seperti mati kutu dan tak mampu mengimbangi kejahilan Mukhtar. Ali dan Mukhtar barangkali tipe kakak beradik yang mengekspresikan perasaan sayang yang mereka miliki dengan cara saling memperolok lewat lelucon-lelucon tertentu.

 

“Halo kak Herlin!”. Mahasiswi itu menegok keatas pohon kersen. Sementara pada jendela mobil, bertengger empat wajah kawanan mahasiswi lainnya. Mereka ikut pula membalas sapaan Ali dengan sapaan pembawaan masing-masing. Belum sempat Ali berbasa-basi dengan kawanan makhluk cantik itu. Mukhtar kembali muncul dari dalam rumah.

 

Ali bertekat agar kakak sulungnya itu tidak mengetahui keberadaannya saat ini. (Sudah saatnya aku mengetahui rahasia itu. Ya, rahasia diantara sepasang muda-mudi yang kini saling bercakap-cakap dalam sikap yang canggung ini). Percakapan canggung itu terjadi hanya beberapa jengkal dibawah pantatnya saat ini. Sudah barang tentu, Ali mendengar semua percakapan kacau itu seumpama ia berbicara pada dirinya sendiri.

 

Menyaksikan empat kawanan makhluk cantik yang lain sedang berbisik-bisik sambil tersipu-sipu. Ali meresai bahwa; Ia pun patut untuk menjadi objek perhatian dari kawanan makhluk jelita itu, tanpa sepengetahuan Mukhtar tentunya. Usaha pertama yang ia lakukan adalah mengatur posisi tubuhnya diantara cabang-cabang pohon kersen sambil berpura-pura tenggelam kedalam buku yang ada dalam genggamannya.

 

“Ali, turun dari sana!” Mukhtar berucap demikian sambil bergeleng kepala. “Huh, ketahuan juga” Ali beringsut sambil malas-malasan

 

“Dijemput jam berapa besok!” Herlin berseruh.  Mukhtar seperti hendak menyampaikan sesuatu yang bernada keberatan, tapi gadis bermata cemerlang dan berambut lurus terurai hingga kepinggang itu menunjukkan tekat yang tak dapat ditawar.

 

“Betul itu kak, bisa sengsara saya bila tiap hari harus mengayuh sepeda”

 

“Siapa juga yang cengeng sambil merengek minta didudukkan diboncengan, sementara orang lain harus bersusah paya mengayu pedal tua dan karatan”

 

“Agaknya aku mengenal baik siapa yang kau maksud!, Dan seperti yang sering kukatankan, aku benci orang yang cengeng”. Ali jelas tak mau kalah, keterpurukan selama tiga hari belakangan ini sudah saatnya untuk ia akkhiri. Dan ia girang alang-kepalang saat mengetahui bahwa Mukhtar kehilangan keluwesan dan otak encernya saat ini. Mukhtar betul-betul berada dalam keadaan canggung dan hanya matanya yang menampakkan protes terhadap tingkah Ali yang kini semakin menjadi.

 

“Ali, kemari sebentar” Herlin memanggil. Ali paham maksud dari sapaan itu dan ia pun berhambur kearah gadis itu. Sebuah kecupan hangat mendarat di ubun-ubunnya. Lantas, Herlin beranjak pergi. “Kak Herlin...!” Gadis berparas cantik itu berbalik. Ali mengacungkan kedua jempolnya. Seketika itu juga, seuntai senyum mengembang di wajah gadis itu. Sementara empat kawanan gadis jelita yang lain seperti sedang melakukan tos secara sembunyi-sembunyi dari balik kaca mobil. Ali mengetahui tingkah makhluk-makhluk cantik itu. Tapi, tentang perihal apa, empat kawanan gadis jelita, yang baru saja melakukan tos misterius, tersipu-sipu sambil menampakkan wajah yang merona saat berpamitan. Ali tak dapat memahami soal itu.

 

“Kau punya cara unik menggoda anak gadis orang!”. Ali melongo sambil mencerna kata-kata itu. “Memperlihatkan belahan pantat, barangkali usaha yang patut dicoba” Ali belum juga menyadari keanehan yang ada pada dirinya. “Barangkali sudah saatnya kau menimbang seperti apa dalaman yang cocok untuk adik kecilmu”. Ali melongo ketubuh bagian bawahnya dan secepat kilat ia berlari kedalam rumah sambil memekikkan sesuatu yang tak jelas. Mukhtar tertawa ngakak sambil memperlihatkan beberapa batang giginya yang tersusun tak rapi.

 

Barangkali akibat letih, Ali tertidur disamping tubuh Mukhtar yang bergumul dengan tumpukan buku sekembalinya dari kampus. Waktu Ali terjaga, tak lagi ia dapati keberadaan Mukhtar – hingga suara derik besih tua yang teramat akrab menjemput segala kesadarannya. Koridor rumah telah kosong memplong – seseorang telah membereskan tumpukan-tumpukan cucian itu.

 

“Aku khawatir pintu ini bakalan roboh dengan sendirinya jika kau terus-menerus menjejalinya dengan koin-koin dalam jumlah tertentu satiap harinya”. Ucap Mukhtar saat terpergok melakukan sesuatu pada benda keramat milik Ali. Ternyata Mukhtar diam-diam menyelipkan uang dalam jumlah tertentu pada celengan miliknya selama ini. Celengan yang terbuat dari batang bambu, yang juga berfungsi sebagai kusen pintu dirumah itu.

*

Kabar tentang; Akan ada orang tua asuh yang hendak mengadopsi Ali sebagai anak didik ternya tidak lagi menjadi kabar melainkan kenyataan. Waktu Ali duduk sambil diapit oleh pak Harpan dan istrinya. Sebetulnya, ia malu untuk menangis. Tapi, ketika wajah orang-orang yang ia sayangi tampak menjauh, jauh dan semakin jauh – Perlahan namun pasti. Jebol jualah ketabahan hatinya. Tangisan itu terus berlanjut hingga tubuh mungilnya terbaring diatas sebuah dipan empuk yang tampak terlalu kebesaran untuk ia tiduri sendirian. Ternyata, pak Harpan maupun istrinya, setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tua Ali, bersepakat untuk menjadikan Ali sebagai anak angkat mereka. Mukhtar tentu sangat keberatan dengan keputusan itu, meski Pak Harpan sendiri masih sepupu dekat dengan ibunya. Tapi, persoalan mengambil keputusan, tentu menjadi hak para orang tua. Terlebih lagi, Ali secara sukarela meng-iya-kan keputusan itu.

 

“Ali Sadikin!” begitulah ia memperkenalkan diri dihadapat teman-teman barunya keesokan paginya. Tapi, belumlah usai perkenalan itu. Tiba-tiba saja jumputan menciduk Ali secara paksa dari kelas yang ia mimpi-mimpikan selama ini. Ali bertanya ini dan itu, tapi lelaki tukang tambal ban yang ia temui tempo hari menolak bicara langsung pada pokok perkara yang ia sebut-sebut sebagai ujian hidup.

“Tabahkan dirimu anak muda!. Lelaki itu harus tegar menantang badai!”  Kata-kata itu mengalirkan suatu kesadaran kedalam diri Ali bahwa; sesuatu yang buruk telah terjadi. Bila saat ini, ia sedang sehat-sehat saja, bahkan berada dalam kondisi yang menurut hamatnya adalah kondisi paling baik yang pernah ia dapatkan selama beberapa bulan terakhir. Setelah hampir tiga bulan lamanya Ali terus dihantui oleh status anak putus sekolah. Kini, perkara itu telah usai, sekarang ia resmi menjadi anak sekolahan lagi, rasa bahagia—meluap-luap seakan hendak berloncatan dari dalam tubuhnya. Tapi, apa pula ujian hidup itu?. Ali terus bertanya-tanya dibalik punggung si-tukang tambal ban.

 

“Tragis sekali!”

“Ia diserempet oleh pengendara motor yang ugal-ugalan, setelah itu Truk datang dan...”

“Tapi, eneh sekali. Sepeda yang ia kendarai tetap utuh, lecet pun tidak!”

 

Percakapan seperti itulah yang Ali dengar dari kerumunan orang setibanya dirumah ayah ibunya. Kondisi rumah tampak sudah sangat ramai. Si tukang tambal ban memarkir sepeda bututnya dan Ali meloncat dengan gesit dari balik punggung si-tukang tambal ban sebelum sepeda yang membonceng tubuhnya berhenti dengan sempurna.

“Ali..” seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Ali hapal betul suara itu. Sosok itu merangkul erat kemudia rubuh dengan sendirinya. Orang-orang menggotong tubuh yang tak sadarkan diri itu keatas sebuak mobil silver-metalik.

“Ada saat tertentu manusia mesti bersedih, namun orang yang berjiwa besar tidak akan pernah membiarkan dirinya hanyut bersama alunan duka”. Dengan mengunakan lengan kemejanya, tukang tambal ban itu menghapus linangan air mata yang bercucuran dipipi Ali. “Kukira Mukhtar sudah mengajarimu bagaimana seharusnya seorang lelaki memandang hidup”. Ali tak mampu berucap sepatah katapun, hanya isak tangis yang tampak pada dirinya. “Bro…! anak lelaki itu harus bertumbuh sembari mempersiapkan diri untuk jadi tulang punggung keluarga. Meski, tanggung jawab itu terkadang tiba lebih cepat dari yang diperkirakan.

*

Nasehat dari lelaki tukang tambal ban itu terus mengiang dalam diri Ali. Dan, dengan sekuat tenaga, Ali memacu sepedanya melintasi enam sampai tujuh lampu merah – Di penghujung sebuah belokan, ia menuntun sepeda miliknya memasuki pekarangan sebuah sekolah.

 

Percakapan dimalam yang sunyi

“Tiga setengah tahun untuk gelar sarjana. tidakkah itu waktu yang terlampau lama?”

“Kau tidak perlu mengganti aturan yang telah ada. Lagipula, tahun depan, aku bisa  bersekolah lagi”

“Bagaimana kalau aku belum lulus juga tahun ini”

“Ya, aku akan menambah masa libur. Bukankah, hal seperti itu cukup menyenangkan”

“Tidak juga, kecuali bila kau sudah melakukan kencan pertamamu secara diam-diam”

“Sebetulnya aku sudah mempertimbangkannya dan mencoba untuk mencari hari yang tepat. Tapi, agaknya aku mesti mendiskusikannya terlebih dahulu denganmu”

­­­­­“Aku khawatir, umurmu belum cukup untuk peroalan-persoalan seperti itu”

“Ah…, persoalan itu juga yang sering-sering membuat buntu rencanaku.

“Wajar!. Kepalamu masih terlalu hijau untuk disesaki oleh kebiasaan-kebiasaan perempuan dewas. Sepertinya ayah sudah pulang!. Coba kau sediakan sesuatu yang dapat menghangatkan badan untuknya”

“Ibu kemana”

“Terlalu banyak gunungan cucian yang menyita seluruh waktunya”. Mukhtar berkata demikian sambil menyepak pantat adiknya. “Agaknya, kita memang membutuhkan seorang lagi perempuan cekatan dirumah ini” Tambahnya lagi dari arah punggung adiknya. “Satu belum cukup!. Kecuali bila ia benar-benar perempuan paling cekatan yang pernah ada”. Ucap sang adik sambil berlalu bersama senyum yang menyimpan sejuta arti.

*