KARAKTER BUILDING : PEMBENTUKAN PRIBADI ANAK

KARAKTER BUILDING : PEMBENTUKAN PRIBADI ANAK

  KARAKTER BUILDING :  PEMBENTUKAN PRIBADI  ANAK  ” 

Menuju anak yang cerdas dengan kepribadian yang baik .                                                               

Siang itu seorang siswi berusia 8 tahun, baru saja menerima rapor di Sekolah. Sesampainya di rumah sang gadis segera menunjukkan rapor kepada ayahnya yang kebetulan sedang berada di rumah, sedang Ibunya berada di luar kota. Melihat rapor tersebut betapa bangganya sang Ayah, karena semua nilai sempurna ( A ), bahkan nilai terburukpun ( B ).

Namun di bawah ada tulisan dari Wali Kelas , Anak ini  sangat cerdas, semua materi mudah diterima dan semua materi Tuntas sangat memuaskan, namun ada karakter yang harus diberi perhatian khusus yaitu, dia terlalu banyak bicara.

Sepenggal cerita di atas menunjukkan bahwa manuasia tidak ada yang sempurna, satu sisi  anak cerdas secara intelektual di sisi lain ada karakter yang harus diberi perhatian khusus.  Karakter / watak adalah sifat bathin yang mempengaruhi segenap pikiran , perilaku dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.Karakter yang baik adalah sikap atau perilaku seseorang yang konsisten di jalur yang benar dan baik meskipun di hadapkan pada situasi yang dilematis.

Karakter secara etimologi yakni berasal dari bahasa latin Character, yang berarti watak,tabiat,sifat-sifat,kejiwaan,budi pekerti, kepribadian dan akhlak.Watak adalah sifat seseorang yang dapat dibentuk dan berubah walaupun mengandung unsusr bawaan yang setiap orang berbeda-beda.Tabiat adalah sifat dalam diri manusia yang ada tanpa dikehendaki dan diupayakan.Budi pekerti adalah nilai-nilai perilaku manusia yang diukur menurut kebaikan dan keburukkannya melalui norma agama, norma hukum, tata krama dan sopan santun norma budaya dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat.

Karakter seseorang akan selalu diuji sepanjang hayat hidupnya. Misal saat memasuki usia remaja ( usia Sekolah ) seseorang akan  diuji eksistensinya diantara teman sebaya di Sekolah maupun dilingkungan luar Sekolah.Dia akan dihadapkan pada sebuah pilihan yang dilematis, misalnya, segera pulang sekolah, atau ikut tawuran dengan teman-teman, pilih tetap mengikuti pelajaran atau bolos Sekolah dan pilihan lain yang tidak sesuai dnegan norma pendidikan.  

Banyak tugas yang harus di emban oleh seorang Pendidik dalam hal ini Guru, antara mencerdaskan dan mendidik untuk menjadi manusia yang berkarakter baik sesuai dengan norma yang di anut.Dan pendidik dalam hal ini Guru harus dan wajib hukumnya untuk selalu mengingatkan mengenai perangkat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada semua manusia, yakni : Akal, Iman dan perasaan.”Bisa jadi anak didik kita berlindung pada alasan manusiawi ketika menghadapi hal-hal yang dilematis, wajar dong bolos teman kita juga mbolos, wajar dong nyontek teman kita juga nyontek, toh yang penting tidak ketahuan. Tapi bagaimana menurut kacamata Iman? Apakah kita bisa berkelit dari hukum Tuhan?

Karakter memang tidak datang serta merta, seperti membalikkan telapak tangan, karakter dibentuk oleh dua hal yang mengawalnya, yakni Pola asuh orang Tua dalam hal ini lingkungan keluarganya dan budaya di luar rumah seperti di Sekolah dan masyarakat. Keduanya saling berhubungan dan saling mengisi pola asuh yang tepat pada keluarga akan membentuk dasar dan kepribadian yang kuat, sedangkan budaya Sekolah dan budaya masyarakat yang baik, beradap sesuai tatanan dan norma akan membekali rasa malu untuk berperilaku menyimpang dari norma.  


"Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar  dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan ( habituation ) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan yang salah ,mampu merasakan ( afektif ) nilai yang baik dan menjadi biasa melakukannya

 ( Psikomotor). Dengan kata lain , pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan(moral knowing) yang baik akan tetapi juga merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling) dan perilaku yang baik( moral action). Pendidikan karakter menekankan pada kebiasaan yang terus menerus dipraktikan dan dilaksanakan.

Dan akhirnya layanan pendidikan jangan hanya membicarakan pencapaian nilai sebagai keberhasilan belajar. Dan ujungnya hasil belajar selama tiga tahun dimaknai dengan pencapaian nilai akhir.Sekurang-kurangnya,ada lima potensi yang harus dikembangkan :

  • Potensi spiritual : merupakan potensi fitrah manusia yang telah ditetapkan kepada setiap makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, diharapkan peserta didik menjadi manusia yang yakin atas penciptaanNya , sungguh sunguh dalam beribadah sesuai ajaran Agama yang di anut.
  • Potensi emosional : Pribadi-pribadi penyabar, santun,gigih, penyayang, empati dan periang merupakan sebuah pencapaian yang berasal dari pengembangan potensi emosional.
  • Potensi sosial : dikembangkan untuk memberikan kemudahan dalam bersikap dan berperilaku sebagai manusia yang hidup bersama masyarakat dan paham akan tugasnya sebagai makhluk sosial..
  • Potensi Pengelolaan Jasmani:yaitu potensi yang dapat mngokohkan saluran pengembangan tiga potensi penting lainnya, yakni potensi spiritual, emosional dan sosial.Sehingga cakap secara pisik dalam berinteraksi, mensana in koreporsano.
  • Potensi intelektual : dikembangkan demi mendorong tumbuhnya manusia yang cerdas, berakal dan mampu menganalisis setiap permasalahan serta tangkas dan tanggap untuk mencari solusi dari masalah yang dihadapi.
  •  

 “ Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan seorang ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya. Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan,tetapi imajinasi ( albert enstein ) "