MBAHMURRUCING MENYELAMATKAN BUMI KITA (MBAHMURRUCING SAVE OUR EARTH)

Budidaya jamur di sekolah merupakan wujud keanekaragaman hayati dan pendidikan kewirausahaan bagi siswa. Limbah dari baglog jamur yang sudah tidak produktif lagi dimanfaatkan untuk rumah cacing tanah, dari hasil rumah cacing akanterbentuk kompos cacing (Vermi kompos) yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

MBAHMURRUCING MENYELAMATKAN BUMI KITA (MBAHMURRUCING SAVE OUR EARTH)
MBAHMURRUCING MENYELAMATKAN BUMI KITA (MBAHMURRUCING SAVE OUR EARTH) SMA 2 Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Jogyakarta merupakan Sekolah Berbasis Lingkungan Hidup atau lebih dikenal dengan istilah sekolah Adiwiyata. Sekolah berbasis lingkungan hidup merupakan sekolah yang berupaya untuk memberikan pendidikan karakter kepada siswa untuk selalu tanggap, siap siaga dalam kegiatan melestarikan lingkungan, baik lingkungan abiotik (tak hidup ; tanah, air, udara, energy) maupun lingkungan biotik atau lingkungan hidup (manusia, hewan, tumbuhan dan menjaga keanekaragaman hayati di sekolah). Perjalanan kegiatan sekolah berbasis lingkungan hidup (Adiwiyata ) di SMA 2 Banguntapan secara intensif dimulai pada tahun 2008. Dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 menjadi sekolah Adiwiyata tingkat propinsi. Tahun 2013 mmenjadi sekolah Adiwiyata tingkat nasional. Pada tahun 2014 bersiap siap untuk menuju sekolah Adiwiyata tingkat mandiri dan selama satu tahun membina / mengimbas ke 11 (sebelas) sekolah yaitu ; 1). SMA 1 Bantul, 2) SMA 2 Bantul, 3) SMK 1 Sewon, 4) SMA 1 Pajangan , 5) SMA 1 Srandakan, 6) MAN LAB UIN Banguntapan, 7) SMP 3 Banguntapan, 8) SD 1 Wirokerten, 9) SD 2 Wojo – Sewon, 10) SD 1 Jambidan, 11) SD Plakaran. Dari 11 (sebelas ) sekolah imbas / binaan SMA 1 Bantul, SMA 2 Bantul, SMK Sewon, dan SMP 3 Banguntapan sudah mendapat peringkat nasional, bahkan menuju sekolah Adiwiyata tingkat mandiri. Dalam pelaksanaan sekolah Adiwiyata memerlukan kekompokan satu kata seluruh warga sekolah , komite sekolah dan seluruh warga sekitar sekolah. Ketika terjadi sinergi yang positif maka sekolah akan cepat mencapai predikat di tingkat propinsi bahkan sampai ke tingkat Adiwiyata Mandiri. Implementasi kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dilakukan di sekolah dan di luar sekolah. Di sekolah siswa dibiasakan untuk membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah yang bisa dikreasi untu kerajinam yang laku jual dan yang bisa dijadikan kompos. Menghemat listrik dengan mematikan kipas angin, LCD Proyektor, AC. Makanan sehat di sekolah , langkah hemat air dan budidaya jamur di sekolah untuk kegiatan pendidikan kewirausahaan. Dari budidaya jamur Tiram setelah jamurnya tidak produktif limbahnya dimanfaatkan untuk budidaya cacing, kemudian dari rumah cacing menjadi kompos cacing. Setelah menjadi kompos cacing siswa memanfaatkan untuk penanaman sistem Aquoponik (memanfaatkan limbah botol mineral atau kaleng) sebagai media tanam dengan diberi sumbu yang bisa menyerap air dari bagian bawah, Sehingga lebih di kenal dengan istilah MBAHMURRUCING (Limbah jamur untuk rumah cacing). 1 Dari kompos cacing juga dimanfaatkan untuk pembibitan mangrove jenis Avecinnia setelah tumbuh ditanam di kawasan hutan mangrove Baros, Samas, Bantul (merupakan laguna akhir muara Sungai Opak). Hutan mangrove sangat bermanfaat untuk menghalangi sampah yang masuk ke laut, pembentukan tanah di laguna /mangrove baros, untuk menghalangi terjadinya tsunami, untuk pemecah gelombang angin yang bisa merusak tanaman budidaya penduduk/petani di sekitar Baros, Samas, Bantul, untuk suplay oksigen yang bersih sehingga bisa menjaga iklim mikro. Hutan Mangrove Baros juga bermanfaat sebagi Eko wisata bagi penduduk sekitar , terkait Bandara Internasional yang dipindahkan di Kulonprogo dan wajah Yogyakarta yang beralih ke Selatan untuk mendukung poros maritim Indonesia.