PENDIDIKAN ANAK TANGGUNG JAWAB SIAPA???

Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, guru, lembaga pendidikan, masyarakat dan pemerintah

PENDIDIKAN ANAK  TANGGUNG  JAWAB SIAPA???
Pembelajaran menyenangkan

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.

           

Akhir-akhir ini kita disuguhi dengan pemberitaan yang sangat mengejutkan bahkan menohok ulu hati kita yang paling dalam. Betapa tidak, anak-anak di bawah umur menjadi korban tindakan asusila bahkan ada yang harus meregang nyawa. Ironisnya, anak-anak di bawah umur itu ada pula yang berperan sebagai pelakunya.

            Ada apa dengan anak-anak kita?? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang seperti  itu pada anak-anak kita??

            Anak merupakan amanah dari Allah SWT kepada setiap orang tuanya. Amanah itu tidak sekedar titipan yang menghendaki penjagaan, pemeliharaan dan perlindungan semata. Namun lebih dari itu, orang tuanya harus berani mempertanggungjawabkan dalam mahkamah sejarah dunia maupun mahkamah Ilahi kelak.

            Tidak hanya bagi orang tuanya, anak-anak juga merupakan amanah bagi kaumnya saat itu. Mereka juga akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, saat itu maupun di kemudian hari. Karena merupakan amanah, sudah tentu harus dipelihara dan tidak dikhianati.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. (QS Al-Anfal : 27)

Metode Pendidikan Influentif

            Perwujudan dari pelaksanaan amanah itu adalah berupa tanggung jawab atas pendidikan mereka. Pendidikan anak adalah tanggung jawab kita bersama antara orang tua, guru(sekolah), masyarakat juga pemerintah. Karena begitu besarnya tanggung jawab itu, maka tak pelak lagi harus diusahakan suatu metode pendidikan yang influentif. Metode ini akan secara efektif dalam memberikan hasil yang maksimal sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna secara mental, moral, spiritual, sosial, dan saintikal sebagaimana harapan kita.

            Adapun metode pendidikan influentif yang dimaksud adalah pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan dengan nasehat, pendidikan dengan perhatian, dan pendidikan dengan hukuman.

A. Pendidikan Dengan Keteladanan

            Keteladanan dalam pendidikan anak adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral, spiritual dan sosial. Pendidikan dengan keteladanan sangat berpengaruh terutama untuk anak yang belum mampu untuk berpikir kritis. Dalam hal ini orang tua adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditiru tindak-tanduknya, sopan santunnya, serta perilaku lainnya karena merekalah figur pertama bagi anak. Demikian halnya untuk guru/pendidik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi kepribadian. Inilah yang akan dilihat,dinilai sekaligus ditiru oleh anak.

B. Pendidikan Dengan Pembiasaan

            Caranya adalah mendidik anak langsung mempraktekkan dari pengalaman-pengalaman belajar yang telah mereka peroleh dengan memulai pembiasaan hal-hal yang baik sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan. Pendidikan dengan pembiasaan harus dilakukan secara terus menerus, teratur, berencana dan konsekuen. Agar pembiasaan ini menjadi kesadaran dan muncul dari hati anak maka tidak ada salahnya jika adanya dorongan dengan kata-kata yang baik atau dalam kesempatan tertentu memberikan pujian atau hadiah sebagai wujud penghargaan atau apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

C. Pendidikan Dengan Nasehat

            Nasehat yang disampaikan adalah untuk kebaikan, yang dapat membuka mata dan mempengaruhi anak untuk berbuat baik. Jika sudah terjalin keakraban, anak akan menjadikan orang tua atau guru sebagai tempat ‘curhat’ mereka. Sehingga ketika ada masalah, anak tidak lagi lari dari masalah atau mencari kompensasi ke tempat-tempat yang ‘tidak aman’ seperti Night Club, Discotic, dan lain-lain.

            Nasehat yang disampaikan hendaknya diselingi dengan canda, dengan kata-kata yang jelas dan sederhana sehingga mudah dipahami anak dan tidak terkesan menggurui.

D. Pendidikan Dengan Perhatian

            Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di jaman sekarang tak pelak membawa dampak bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua atau guru tentu harus mencurahkan, memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak terutama dalam hal pembinaan akhlak dan moral. Selain itu juga dalam pendidikan spiritual, sosial, jasmani, termasuk juga pendidikan seks.

E. Pendidikan Dengan Hukuman

            Pemberian hukuman ini bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang menyalahi aturan/norma. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian hukuman pada anak yaitu harus melihat kondisi psikologis anak dan harus ada manfaat secara psikologis atau pedagogis. Oleh karena itu hukuman yang diberikan harus tetap dalam jalinan cinta dan kasih sayang sehingga akan menimbulkan kesan pada hati anak yang pada akhirnya akan menimbulkan keinsyafan serta penyesalan pada diri anak. Jika memang terpaksa memberikan hukuman fisik, hendaknya dijadikan sebagai alternatif terakhir.

            Tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi harapan yang akan melanjutkan estafet perjuangan kita. Semoga metode pendidikan influentif ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan solusi untuk memperbaiki kualitas anak-anak kita.