Sing Penting Yakin!

Sing Penting Yakin!

Sing Penting Yakin…!

 

Dapatkah kita mengambil hikmah dari kisah berikut???

Pada tahun 2011 ada salah satu peristiwa yang tak bisa terlupakan oleh keluarga Pak Anwar. Di waktu itu istri sedang sakit dan harus beli obat. Namun di waktu itu keluarga Pak Anwar benar-benar dilanda krisis keuangan. Uang di dompet Pak Anwar hanya cukup untuk beli bensin, sebab di saat itu juga Pak Anwar sudah berjanji untuk mengisi kajian di salah satu kampus.

Menjadi pilihan yang berat saat itu ketika uang di dompet untuk beli bensin atau beli obat? Karena Pak Anwar sudah berjanji lama untuk mengisi kajian di kampus, ya beliau tetap memilih untuk datang ke kampus tersebut. Meski panitia di waktu itu pernah bilang, “Pak Anwar mohon maaf acara ini free, jadi kami (panitia) tidak bisa memberikan fee untuk pembicara”.

“Oke tak masalah, bismillah aja pokoknya ya”, jawab Pak Anwar.

Pak Anwar memaklumi karena kajian sore tersebut untuk mahasiswa umum dan harapannya agar program dakwah kampus bisa terus berjalan, sebab ini bukan kampus islami dan mahasiswa butuh kajian.

Setalah itu Pak Anwar pamit ke istri dan sangat mendukung untuk berangkat mengisi kajian ke kampus tersebut. 30 menit perjalanan dari rumah ke lokasi kajian, dan sesampainya di lokasi Pak Anwar langsung membagikan materi yang di foto copy sendiri. Peserta sangat antusias dengan materi yang diberikan dan diskusi sangat menarik semua berjalan dengan lancar.

“Terima kasih ya Pak atas sharing ilmunya, semoga berkah ilmunya dan dipermudah rezekinya”, kata panitia.

“Aaminn”, jawab Pak Anwar.

Setelah itu beliau berpamitan dan langsung bergegas pulang. Namun sesampainya di parkiran kampus hujan turun. Hujan sangatlah lebat. Pak Anwar tak terlalu berpikir panjang, belau tetap akan pulang dengan memakai jas mantel. Karena di saat itu pikirannya hanya terfokus untuk segera pulang untuk menemani istri yang sedang sakit.

“Oke bismillah saya pulang!”, pukas Pak Anwar.

Di tengah perjalanan tiba-tiba Pak Anwar mengendarai motor pelan-pelan, beliau menegukan kepala dan sadar bahwa jarum pengukur bensin sudah mepet di garis merah bawah. Beliau berhenti di pinggir jalan lalu menengok ke kiri ada apotek. Setelah itu berpikir sebentar.

“Uang ini buat beli bensin atau obat ya?, kalau beli bensin saya bisa pulang cepat namun istri tak ada obat. Tapi kalau saya beli obat saya harus pulang dengan menuntun sepeda yang masih kurang 3 km lagi perjalanan dan jalan menanjak. Ya Allah tidak mungkin engkau sekejam ini”, pungkas rintihan dalam hatinya.

Setelah itu Pak Anwar putuskan untuk beli obat dan jalan kaki menuntun motor tak masalah.

“Bismillah mawon Gusti Allah mboten sare!”, ucapnya dengan penuh optimis.

Ketika mau masuk ke parkiran apotek tba-tiba ada bunyi sms masuk.

“Haduh , ini pasti istri yang sms….”, pikir Pak Anwar.

Begitu masuk di halaman parkir, Pak Anwar turun lalu berteduh di teras apotek. Setalah itu beliau membaca sms, ternyata itu bukan dari istrinya dan sms itu tertulis…

“Pak Anwar, cek rekening ya, saya sudah transfer untuk uang muka garap naskah biografi. Besok saya kirim lagi untuk tiket pesawat ke Jakarta ya..”

“Alhamdulilla ya Allah..”, ucap Pak Anwar dengan penuh rasa syukur.

Setelah itu beliau bergegas beli obat untuk istri dan pergi ke ATM untuk mengambil uang tersebut. Setelah itu beliau dirumah menceritakan peristiwa indah tersebut kepada sang istri dan keluarga. Berbahagialah keluarga Pak Anwar dengan tak melupakan rasa syukur kepada-Nya.

Asiknya hidup memang begitu, pertolongan Allah penuh rahasia dan selalu tepat waktu. Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk tetap yakin, berkurang yakin atau justru kehilangan keyakinan atas kekuasaan-Nya? Tidak sedikit orang yang memutuskan untuk meninggalkan aturan Allah dengan sebab terdesak urusan ekonomi dan mengambil jalan yang dibenci oleh-Nya. Ia putus asa dari rahmat Allah padahal Allah berfirman “Janganlah engkau berpaling dan beputus asa dari rahmat Allah..”. Rahmat Allah sangatlah luas dan nyata namun kita sering tak menyadarinya.

Lantas bagaimana cara kita mengukur keyakinan bahwa Alllah tidak akan meninggalkan kita? Temukan jawabannya dalam diri anda masing-masing. :)

 

 

 

 

@ucupsal.