Waktu sore

Waktu sore

Filter hangat menupi keindahan paras kekasih, sambil aku tahan fokus kamera agar tidak ngeblur saat aku menikmati hasilnya kelak. Berpindah kesana-kemari, berjalan, dan berlari, sesaat dia berhenti, dan sekejap dia pergi lagi, sedangkan aku masih seperti mimpiku yang ingin selalu mendampingimu.

"Mas, aku lapar, pengen beli pentol" mimik kekasih yang manja merubah suasana jingga menjadi senja; yang mana setiap hari aku luangkan waktu untuk menikmatinya. Aku ambil lembaran rupiah dari kantong celanaku, agak sempit memang, karena aku juga tidak terbiasa mengenakan celana begi yang aku aku sukai. Selembar dua puluh ribu baru sudah aku keluarkan, aku coba meluruskan uang sambil menyusuri paras manja kekasih, "ehh, dimana dia, bukannya dia tadi disini, di sampingku" aku sedikit khawatir akannya, merasa kehilangan waktu berharga, dan bersalah tentunya.

Angin senja menghembus di sela-sela leher dan lipatan kedua bahuku, sejuk dan menyegarkan aku yang melihatnya tertawa picik di hadapan penjual pentol sambil melambai padaku, bukan lambaian ajakkan, melainkan penolakkan, menolakku untuk menghampirinya yang kadang bertukar suara dengan penjualnya, intinya aku nggak boleh, itu zona terlarang untukku yang bukan penjual pentol.

Matahari mulai mendengar hari, suara burung pulang dari mencari rezeki, sembari meyaksikan aku yang menyaksikannya, kekasih, dia datang membawa dua bungkus pentol yang mana satunya akan diberikan padaku, tapi sayangnya dia melupa untuk mengambil uangku, sehingga aku menawarkannya, dan lagi-lagi dia melambai padaku kedua kalinya dengan lambaian yang sama dengan sebelumnya, dan kedua kalinya aku menginginkan dia